Berhati-hatilah dengan ilmu makrifat. Bila datang sahaja cahaya pada kita, jangan cepat kita ingat ia dari Allah. Syaitan pun boleh berupa sebagai cahaya. Ramai orang alim yang telah syaitan sesatkan dengan cara ini. Ilmu makrifat juga tak boleh dijual-beli.
Iblis setelah berputus asa menggoda dan menyusahkan Shaikh Abdul Qadir Jilani, menyamar pula sebagai satu cahaya yang sangat terang benderang dan sangat menarik, lalu muncul dihadapan Shaikh seraya berkata:
“Ya Abdul Qadir, aku Tuhanmu. Oleh kerana engkau telah bersungguh2 mujahadah padaku maka pada hari ini aku telah menghalalkan bagi kamu segala yang aku haramkan.!!!”
Maka segera Sheikh menyahut, “A’uzhu Billahi Mina-asy-Syaitanir-Rajim”, nyahlah engkau wahai Iblis yang dilaknat” ..
Ketika itu cahaya seperti kepulan awan itu bertukar menjadi asap. Dan terlihatlah Iblis. Lalu Iblis itu berkata,
“Ya Abdul Qadir, bagaimana engkau tahu aku Iblis?” sedangkan berapa banyak orang alim yang telah aku sesatkan sebelum kamu dengan cara ini.”
Shaikh menjawab, “Allah Ta’ala telah menyatakan hukum di dalam Al-Qur’an. Dan dia tidak pernah menghalalkan yang haram”.Maka aku tahu tentu engkau Iblis.
Iblis menjawab, “Engkau telah selamat disebabkan ketinggian ilmu engkau”
Sheikh menjawab kembali, “Binasalah engkau. Aku terselamat bukan kerana ilmuku tetapi kerana Rahmat Tuhanku”.. Maka kembalilah Iblis berputus asa tak dapat menggoda Shaikh Abdul Qadir Jilani Radhiallahu ‘Anh.
Hendaklah kita fahami untuk makrifat perlukan beberapa syarat, kalau tidak syaitan yang datang.
SYARAT-SYARAT MA’RIFAT
Apabila seseorang bermaksud hendak ber¬MA’RIFAT, maka terlebih dahulu yang bersangkutan harus memiliki syarat-syarat, sebagai berikut.:
1. Harus memiliki niat, dan tekad serta keyakinan ingin bertemu dengan Allah.
2. Harus memiliki kemerdekaan berpikir dengan menggunakan akal dan nisbah untuk menemui Allah.
3. Harus memiliki kemerdekaan kemauan/kehendak, yaitu kemauan untuk menemui Allah itu benar-benar kemauan/kehendak dari hati sanubarinya, bukan kerana terpaksa, ikut-ikutan atau sekedar ingin tahu saja.
4. Menggunakan Ayat-ayat, Kitab Suci sebagai referensi untuk dapat menemui Allah.
5. Mencari dan mendapatkan seorang Guru Mursyid yang benar-benar sudah Ma’rifat, yaitu yang sudah tahu dan kenal kepada Tuhannya.
Sesuai dengan bunyi ayat-ayat sebagai berikut:
AL-ANKABUT : 5 & 23
5. Barangsiapa yang mengharap Pertemuan dengan Allah, Maka Sesungguhnya waktu (yang dijanjikan) Allah itu, pasti datang. Dan Dialah yang Maha mendengar lagi Maha mengetahui.
23. Dan orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah dan Pertemuan dengan Dia, mereka putus asa dari rahmat-Ku, dan mereka itu mendapat azab yang pedih.
AL-MUJJAADILAH : 12-13
12. Hai orang-orang beriman, apabila kamu mengadakan pembicaraan khusus dengan Rasul hendaklah kamu mengeluarkan sedekah sebelum pembicaraan itu. Yang demikian itu lebih baik bagimu dan lebih bersih; jika kamu tidak sanggup maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
13.Apakah kamu takut akan (menjadi miskin) kerana kamu memberikan sedekah sebelum mengadakan pembicaraan dengan Rasul? Maka jika kamu tiada memperbuatnya dan Allah telah memberi taubat kepadamu maka dirikanlah solat, tunaikanlah zakat, taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya; dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
BERGURU KEPADA YANG TAHU
BERTANYA KEPADA AHLINYA
BERJALAN SAMPAI BATAS
BERLAYAR SAMPAI KE PULAU
MENGAJI SAMPAI KHATAM
Bagaimanakah cara untuk bertemu dan menyaksikan Tuhan? Sebagai suatu contoh yang nyata dapalah kita pelajari pengalaman Nabi Muhammad Saw. waktu beliau mengadakan ISRA-MI’RAAJ, untuk menemui Allah. Telah dikemukakan sebelumnya bahwa Tuhan adalah maha Roh dan untuk menyembah Allah haruslah dengan Roh kita. Dengan perkataan lain apabila kita hendak menghadap Allah haruslah dengan badan Rohani kita dan tidak dengan badan jasmani kita. Dalam kata kiasan di tulisan sebelumnya telah dikemukakan dalam MOTTO sebagai berikut: Engkau bahkan harus mati selagi hidup dan sesudah itu barulah engkau dapat bertemu dengan Dia. Maka untuk menemui Allah kita harus mematikan badan jasmani kita dan kita menemui-Nya dengan Roh (badan rohani) kita.
Dengan mematikan badan jasmani kita berarti kita mematikan seluruh pancaindera kita dan menghilangkan semua nafsu dan ego yang dimiliki badan jasmani kita.
Pada dasarnya seorang ahli MA’RIFAT tidak bersedia menjelaskan cara berma’rifat kepada umum secara terbuka, kecuali kepada orang-orang yang benar-benar ingin menemui Allah dengan cara pembuktian, setelah memenuhi beberapa persyaratan.
Bagaimanakah cara kita harus mematikan badan jasmani kita?
Untuk memperoleh penjelasan yang lebih terperinci, para pembaca perlulah menanyakannya kepada seorang ahli Ma’rifat.
Perjalanan Mi’raj untuk menemui Tuhan adalah suatu pengalaman ghaib serta rahasia serta laku dengan tanpa melakukan hal-hal yang sukar dan pula tidak menimbulkan kesan negatif terhadap jasmani (physic) dan mental. Apabila Tuhan menghendaki dan mengizinkan-Nya maka secara yang amat ajaib Tuhan menampakkan cahaya-Nya (Nur).
Untuk melaksanakan Ma’rifat bagi seseorang yang belum pernah melaksanakannya, haruslah dibimbing oleh seorang guru Mursyid yang telah kenal dan tahu kepada Tuhannya. Seperti firman Allah sebagai berikut:
AL-ISRAA :1
Maha suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.
AL-ISRAA :72
Dan barangsiapa yang buta (hatinya) di dunia ini, nescaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar).
ConversionConversion EmoticonEmoticon