MUHAMAD RIZKY JULIAN 10 JULI 2015

QONA’AH RESEP MENGGAPAI HIDUP BAHAGIA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Makna Dan Hakekat Qona’ah

Imam Ibnu Faris Rahimahullah mengatakan: “huruf Qoof, Nun, dan ‘Ain mempunyai dua makna yang shohih. Salah satu maknanya adalah menunjukkan penerimaan atas sesuatu. Sedangkan makna yang lain adalah menunjukkan sesuatu yang melingkar.” (Mu’jam maqoyis al-Lughoh hal. 835)

Ibnu Sunni Rahimahullah berkata: “Qona’ah adalah ridho terhadap pemberian.” (al-Qona’ah hal. 40)

Imam Roghib al-Ashfahani Rahimahullah mengatakan: “Qona’ah adalah merasa cukup dengan sesuatu yang sedikit dari sesuatu yang dibutuhkan.” (al-Mufrodaat Fi Ghoriib al-Qur’an hal. 414)

Imam Ali al Jurjani Rahimahullah berkata: “Qona’ah secara bahasa maknanya ridho terhadap pemberian. Ada yang mengatakan bahwa qona’ah adalah mencukupkan diri, tidak meminta.” (at-Ta’riifaat hal. 179)

Imam Ibnu Hazm Rahimahullah mengatakan: “Qona’ah adalah sifat yang utama, tersusun dari sifat dermawan dan adil.” (Mudawatun Nufus hal. 145)

Dapat kita simpulkan bahwa qona’ah adalah engkau ridho dan menerima pemberian Allah Azza wa Jalla kepadamu dalam kehidupan dunia ini, baik sedikit atau banyak. Engkau menyerahkan urusanmu kepada Rabb mu. Engkau mengetahui dengan yakin bahwa Allah Azza wa Jalla lebih tahu, lebih penyayang terhadapmu daripada dirimu sendiri. (al-Qona’ah  hal. 18, Abdullah bin Ibrohim Dawud).

ANJURAN QONA’AH

Anjuran untuk berbuat qona’ah sangat banyak, tertuang dalam al Qur’an dan as Sunnah. Anjuran ini secara umum berupa isyarat dan makna yang jelas untuk senantiasa menerima apa adanya dan tidak meminta-minta. Merasa cukup dengan pemberian Allah Azza wa Jalla, tidak bernafsu menimbun harta banyak, karena semua itu adalah kenikmatan semu yang punah.

Berikut ini sebagian dalil-dalil anjuran qona’ah.

Allah Azza wa Jalla berfirman:

"Dan telah Kami jadikan untukmu unta-unta itu sebagian dari syi’ar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya, Maka sebutlah olehmu nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri (dan telah terikat) kemudian apabila telah roboh (mati), maka makanlah sebahagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. Demikianlah Kami telah menundukkan unta-ubta itu kepada kamu, Mudah-mudahan kamu bersyukur."  (QS. Al-Hajj [22]: 36)

Allah Azza wa Jalla juga berfirman:

(Berinfaqlah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di bumu; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari minta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada seseorang secara mendesak. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), Maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui." (QS. Al-Baqarah [2]: 273)

Adapun hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di antaranya:

Dari Abdullah bin Amr Radhiyallahu Anhu, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

“Sungguh beruntung orang yang masuk Islam, diberi kecukupan dan Allah menjadikannya orang yang ridho terhadap apa yang diberikan padanya.” (HR. Muslim: 1054)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga pernah berkata kepada Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu:

“Wahai Abu Hurairah, jadilah orang yang waro’ niscaya engkau menjadi manusia yang paling beribadah. Jadilah orang yang qona’ah niscaya engkau menjadi manusia yang paling bersyukur. Cintailah manusia sebagaimana engkau mencintai untuk dirimu sendiri, niscaya engkau menjadi seorang mukmin. Perbaguslah pergaulan dengan tetanggamu niscaya engkau menjadi seorang muslim. Sedikitlah tertawa, karena banyak tertawa mematikan hati.” (HR. Ibnu Majah: 4217, dishohihkan oleh al Albani dalam as Shohihah: 930)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga bersabda:

“Bukanlah yang dinamakan kaya dengan banyaknya harta, akan tetapi kaya adalah yang kaya jiwanya.” (HR. al-Bukhori: 6446, Muslim: 1051)

Imam an-Nawawi Rahimahullah berkata: “Makna hadits ini bahwa kaya yang terpuji adalah yang kaya jiwanya, merasa cukup, dan tidak bernafsu terhadap perhiasan dunia. Karena banyak harta akan mendorong semangat untuk terus bernafsu menambah hartanya. Orang yang selalu meminta tambahan adalah orang yang tidak merasa cukup dengan apa yang dimiliki, maka orang yang sepeti ini bukan orang yang kaya.” (Syarah  Shohih Muslim: 4/3)

MANFAAT QONA’AH

Merasa Cukup

Timbulnya perasaan jiwa yang selalu cukup terhadap pemberian Allah Azza wa Jalla.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

“Barangsiapa yang meminta kecukupan, maka Allah akan mencukupinya.” (HR. al-Bukhori: 1427, Muslim: 2471)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga bersabda:

“Terimalah apa yang Allah berikan padamu, niscaya engkau menjadi manusia yang paling kaya.” (HR. Tirmidzi: 2305, ahmad: 2/310. Dihasankan oleh alaAlbani dalam as-shohihah no. 930)

Syaikh Abdurrahman as-Sa’di Rahimahullah berkata: “Barangsiapa yang merasa cukup dengan pemberian Allah Azza wa Jalla, maka dia adalah orang yang kaya sejati, sekali pun hasil yang ia dapat sedikit. Bukanlah kaya itu dengan banyaknya harta, tetapi hakekat kaya adalah kaya hatinya. Dengan menjaga diri dari meminta-minta dan merasa cukup terhadap pemberian Allah Azza wa Jalla, maka sempurnalah kebahagiaan hidup bagi seorang hamba, mendapat nikmat duniawi dan qona’ah dengan apa yang Alloh berikan padanya.” (Bahja Qulub al-Abror hal. 73)

Sebab Keberuntungan

Karena Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

“Sungguh beruntung orang yang diberi petunjuk ke dalam agama Islam, kehidupannya tidak meminta-minta dan ridho terhadap pemberian.” (HR. Tirmidzi: 2349, Hakim: 1/35, dishohihkan oleh al-Albani dalam as-Shohihah: 1506)

Imam Ahmad bin Qudamah Rahimahullah berkata: “Orang yang tidak mendapat harta sudah selayaknya bersifat qona’ah. Sedangkan bagi yang mendapatkan harta hendaknya digunakan dengan baik, dermawan, dan mengutamakan orang lain.” (Minhajul Qoshidin hal. 259-260)

Mendapat Kecintaan Allah Dan Manusia

Zuhud terhadap dunia dan zuhud terhadap apa yang dimiliki manusia adalah sebuah kemuliaan, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

“Berlaku zuhudlah di dunia, maka Allah akan mencintaimu. Berlaku zuhudlah terhadap apa yang dimiliki manusia, maka manusia akan mencintaimu.” (Hadits hasan, as-Shohihah: 944)

Orang yang hidupnya kekurangan sudah semestinya qona’ah, tidak tamak dan rakus terhadap apa yang dimiliki orang lain. Sebaliknya, bagi yang punya harta janganlah terlalu semangat dalam mencari harta, hendaknya dia mencukupi dan qona’ah sesuai kebutuhan pokok saja, seperti makan, pakaian, dan tempat tinggal.

Hati Lapang Dan Bahagia

Bukanlah kebahagian itu dengan terwujudnya segala keinginan yang bersifat materi, bukan pula yang bersifat kelezatan atau menuruti hawa nafsu, akan tetapi kebahagian jiwa adalah dengan ridho dan qona’ah. (al-Qona’ah hal. 88)

Syaikh Abdurrahman as-Sa’di Rahimahullah berkata: ”Lihatlah!, kebanyakan manusia mereka ditimpa penyakit bimbang, sedih, dan selalu was-was, hatinya merasa sempit, kemudian dia baru menyadari betapa pentingnya sehat dari penyakit semacam ini, pemberian Allah Azza wa Jalla berupa kelapangan hati. Bahkan orang yang miskin acapkali mengalahkan orang-orang kaya dalam nikmat semacam ini, yaitu nikmat qona’ah dan lapangnya hati.” (Bahja Qulub al-Abror hal. 46)

Termasuk Ketakwaan

Ali bin Abi Tholib Radhiyallahu Anhu berkata: “Takwa adalah takut kepada Allah Azza wa Jalla, beramal sesuai dengan wahyu (al-Qur’an), qona’ah dengan yang sedikit dan selalu mempersiapkan diri menghadapi hari pembalasan.” (al-Qona’ah hal. 88)

DALAM HAL APA HARUS QONA’AH?

Apakah qona’ah harus dalam segala aspek kehidupan sampai sekali pun masalah akhirat dan ilmu?

Ketahuilah, bahwa qona’ah itu hanya dalam perkara-perkara yang sifatnya akan punah dan hilang, yaitu perkara duniawi dengan segala macam kenikmatannya. Bukan pada sesuatu yang kekal dan abadi, berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang berbunyi:

“Lihatlah kepada orang yang berada di bawahmu dan janganlah kalian melihat orang yang di atasmu. Karena hal itu akan lebih menjadikanmu tidak meremehkan nikmat Allah.” (HR. Muslim: 7619)

Hadits ini untuk perkara-perkara dunia, seperti harta, anak, istri, tempat tinggal, kendaraan, bentuk tubuh, nasab, pangkat, pekerjaan, dan perkara dunia lainnya yang akan punah dan hilang.

Adapun dalam masalah ibadah, ilmu, akhlak, dan perkara akhirat adalah dengan melihat orang yang berada di atas kita, melihat orang yang rajin dalam ibadah, luas ilmunya, dan istiqomah dalam agamanya.

Akan tetapi kebanyakan manusia pada zaman sekarang, dalam kehidupan dunia, mereka selalu merasa miskin, padahal Allah Azza wa Jalla telah memberikannya nikmat berupa kecukupan. Hal ini terjadi karena tidak adanya sifat qona’ah dalam diri, selalu merasa kurang, tidak qona’ah, padahal qona’ah adalah kunci kebahagiaan hidup di dunia. Sebaliknya, dalam perkara akhirat, manusia sangat mudah puas dalam beribadah, walaupun sedikit, tidak melihat orang yang lebih di atasnya!

Imam Ibnul Jauzy Rahimahullah mengatakan: “Sebagian manusia ada yang ingin selalu megah dan enak dalam makanan, di antara mereka ada yang tidak terima jika hidup susah. Sungguh sangat jauh orang yang menginginkan bagusnya agama dengan selalu meraih kelezatan.” (Shoidul Khotir hal 755)

CONTOH QONA’AH NABI MUHAMMAD SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah berdo’a: “Ya Allah berilah rizki kepada keluarga Muhammad berupa makanan pokok.” (HR. al-Bukhori: 6460, Muslim: 1055)

Aisyah Radhiyallahu Anha berkata: “Sesungguhnya kami melihat hilal pergantian bulan dalam kurun waktu dua bulan, dan selama itu tidak ada api yang menyala di rumah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam (tidak ada sesuatu yang di masak), yang ada hanya ir dan korma. Hanya saja kadang-kadang ada tetangga Anshor yang memberikan susu, beliau minum dan memberi minum kepada kami.” (HR. al-Bukhori: 2428, Muslim: 2972)

Aisyah radhiyallahu Anha berkata: “Sungguh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah meninggalkan (perkara) dunia, dan beliau tidak pernah kenyang sebanyak dua kali dari makan roti dan minyak dalam sehari.” (HR. Muslim; 2974)

KIAT-KIAT MERAIH SIFAT QONA’AH

Ketahuilah terapi agar hidup bahagia dengan qona’ah terangkum dalam tiga perkara, yaitu; sabar, punya ilmu, dan beramal.

Penjelasan yang lebih gamblang lagi bahwa kiat meraih sifat qona’ah adalah dengan perkara-perkara sebagai berikut:

Hidup Hemat

Barangsiapa yang ingin hidup qona’ah hendaklah dia mengendalikan jiwanya dari pengeluaran yang tidak berguna sebisa mungkin. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

“Tiga perkara yang bisa menyelamatkan: takut kepada Allah ketika sepi dan terang-terangan, hemat ketika kaya dan miskin, adil ketika marah dan ridho.” (hadits hasan, lihat takhrij lengkapnya dalam as-Shohihah No. 1802)

Jangan Takut Masa Depan

Jika saat ini Allah azza wa Jalla telah memberikan kepadamu kecukupan dalam harta, maka janganlah engkau takut dan khawatir terhadap masa depanmu. Jangan engkau terlalu berandai-andai ‘nanti jika saya miskin’. Yakinlah bahwa rizkimu tidak akan lari. Ingatlah bahwa setan selalu menakut-nakuti manusia dengan kemiskinan, maka terimalah pemberian Allah Azza wa Jalla saat sekarang dengan lapang dada, merasa cukuplah dengan pemberian itu, tidak usah berupaya keras memburu harta karena khawatir tidak mendapat rizki di masa depan, sadarilah hal ini wahai saudaraku!.

Ketahuilah Keutamaan Qona’ah

Karena dengan demikian akan membendung nafsu terhadap dunia, dia akan menyadari bahwa mengejar dunia tanpa ada arahan adalah tercela.

Lihatlah Orang Yang Lebih Utama Darimu

Hendaklah seorang muslim melihat kenikmatan yang didapat oleh orang-orang Yahudi dan Nashoro, kenikmatan yang diraih oleh orang-orang bodoh, kemudian bandingkanlah dengan kenikmatan yang di dapat oleh para Nabi, Rasul, dan orang-orang shalih. Karena yang demikian akan memudahkan baginya untuk bersabar menerima yang sedikit,qona’ah terhadap pemberian.

Banyak Harta Banyak Petaka

Hendaknya dipahami oleh setiapmorang bahwa mengumpulkan banyak harta tidak selamanya baik. Bahkan kadangkala membawa petaka ayang tidak disadari. Cukuplah pikirannya tersibukkan dengan harta yang tersimpan menjadi pelajaran agar kita qona’ah.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

“Apa yang datang kepadamu sesuatu dari harta ini, dan engkau tidak tergantung dan tidak memintanya, maka ambillah. Dan apa yang tidak datang padamu, maka janganlah engkau selalu berharap dan terkait dengannya.” (HR. al-Bukhori: 1473, Muslim: 1045)

Lihatlah Orang Yang Dibawahmu

Yaitu orang yang di bawah kita dalam masalah dunia, karena yang demikian akan membawa rasa syukur kepada Allah Azza wa Jalla. Demikian pula lihatlah orang yang melebihi kita dalam masalah agama, agar termotivasi untuk meniru dan mengikutinya, bukan hanya mengejar harta semata.

Berdo’alah Kepada Allah

Diantara do’a yang diajarkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk meraih qona’ah adalah:

“Ya Allah, aku minta kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, kesucian, dan kecukupan.” (HR. Muslim: 2721)

Syaikh Abdurrahman as-Sa’di Rahimahullah berkata: “Do’a ini termasuk do’a yang banyak mengandung manfaat, terkandung di dalamnya kebaikan agama dan dunia (kesucian dan kecukupan). Terkandung didalamnya agar merasa cukup dari apa yang ada pada manusia, tidak bergantung kepada mereka, merasa cukup dari pemberian Allah Azza wa Jalla berupa rizki. Tergapainya ketenangan hati karena selalu merasa cukup, yang dengannya akan sempurna kebahagiaan hidup di dunia, dan ketenangan hati yaitu kehidupan yang baik.” (Bahjah Qulub al-Abror hal. 73)

MUTIARA SALAF (PENDAHULU UMAT) TENTANG QONA’AH

Umar bin Khatthab Radhiyallahu Anhu adalah sosok sahabat mulia yang sangat qona’ah, apabila menginginkan sesuatu beliau berusaha menahannya selama setahun. (al-Mustatrof hal. 124)

Sa’ad bin Abi Waqqosh Radhiyallahu Anhu mengatakan: “Wahai anakku, apabila engkau meminta kecukupan, maka carilah dalam qona’ah, sesungguhnya dia adalah harta yang tak akan habis. Dan waspadalah engkau dari tamak, karena hal itu adalah kefakiran yang nyata.” (al-Mustatrof hal. 124)

Ada yang bertanya kepada Abdul Wahid bin Zaid: Kapan seseorang itu dianggap ridho dan menerima? Dia menjawab: “Apabila orang itu bergembira dengan musibah yang ia dapat sebagaimana kegembiraannya ketika mendapatkan kenikmatan.” (al-Mustathrof hal.125)

Fudhail bin Iyadh berkata: “Barangsiapa yang ridho dengan pemberian Allah kepadanya, maka Allah akan memberkahi dalam pemberian tersebut.” (Al-Mustathrof hal.125)

Bakr bin Abdullah al-Muzani mengatakan : “Cukup bagimu dari dunia ini engkau berbuat qona’ah di dalamnya sekalipun kehidupanmu hanya makan kurma, minum air, dan hidup di bawah tenda. Acapkali terbuka bagimu sesuatu dari dunia ini, maka jiwamu akan bertambah lelah dengannya.” (al-Qona’ah hlm.40, Ibnu Abi Dunya, lihat pula Min Akhbar as-Salafhal.155, Zakaria bin Ghulam al-Bakistani)

Ya Allah, jadikanlah hati-hati kami hati yang qona’ah menerima pemberianMu, dan berkahilah pemberian tersebut. Berilah kami ganti yang lebih baik terhadap sesuatu yang luput dari kami di dunia ini. Aamiin....

Oleh : Abu Abdillah Syahrul Fatwa as-Salim

Sumber : https://abunamira.wordpress.com/2014/04/24/qonaah-resep-menggapai-hidup-bahagia/#more-11669

Previous
Next Post »
Thanks for your comment