MUHAMAD RIZKY JULIAN 10 JULI 2015

Nasehat Abu Hasan Syadzili Tentang Wali

Abul Hasan asy-Syadzili berkata: “Allah telah memberi cobaan kepada golongan yang mulia ini berupa makhluk, khususnya orang yang ahli berdebat. Jarang sekali kamu menjumpai salah satu dari mereka yang dilapangkan dadanya oleh Allah untuk membenarkan seorang wali secara khusus. Ia akan berkata kepadamu: Kami meyakini bahwa Allah memiliki wali-wali, tetapi dimana mereka? Jika kamu menunjuk seseorang maka ia segera menolak, mengingkari keistimewaan Allah yang diberikan Allah kepadanya dan mengutarakan hujjah bahwa orang tersebut bukan wali. Ia lupa bahwa yang mengetahui sifat-sifat wali hanya para wali. Jadi, dari mana orang yang bukan wali menafikan kewalian seseorang? Ini merupakan fanatisme belaka. Contohnya adalah pengingkaran Ibnu Taimiyah terhadap kami dan saudara-saudara kami pada masa sekarang. Wahai saudaraku, berhati-hatilah terhadap orang yang bersikap seperti di atas. Jauhilah majlisnya seperti kamu menjauhi binatang buas. Semoga Allah menjadikan Aku dan kalian sebagai orang-orang yang membenarkan para wali dan percaya terhadap karamah mereka.”

Abul Hasan asy-Syadzili berkata: “Telah menjadi sunnatullah bahwa para Nabi dan orang-orang pilihan mendapat perlawanan dari manusia pada permulaan langkah mereka, dan juga pada saat mereka mencapai puncak. Ini terjadi sewaktu hati mereka condong kepada selain Allah. Pada akhirnya mereka menang ketika telah menghadap Allah dengan sempurna.” Seseorang mendapat ujian sesuai dengan tingkatannya. Allah berfirman:

 “Dan kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah kami ketika mereka sabar.” (QS. As-Sajdah: 24).

Allah juga berfirman:

“Dan sesungguhnya telah didustakan (pula) Rasul-Rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Kami kepada mereka.” (QS. Al-An’am: 34)

Jadi, dapat diketahui bahwa orang-orang yang mengikuti jejak para Nabi, yaitu para wali dan para ulama, pasti mendapat penganiayaan seperti mereka dan didustakan sebagaimana mereka didustakan agar sabar seperti mereka dan agar bersifat belas kasih kepada para makhluk. Aku mendengar bahwa guruku, Ali al-Khawwash, berkata:

“Seandainya kesempurnaan orang yang berdakwah tergantung kepada kesepakatan manusia untuk membenarkannya maka yang lebih berhak atas hal itu adalah Nabi SAW dan para Nabi sebelumnya.
Dan ternyata sebagian kaum membenarkan mereka atas petunjuk Allah dan sebagian kaum tidak membenarkan sehingga Allah mencelakakan kaum tersebut.” Karena para wali dan para ulama mengikuti jejak para Rasul maka manusia kaitannya dengan mereka terbagi dua: golongan yang membenarkan dan golongan yang mendustakan sebagaimana yang dialami para Rasul agar jelas bahwa mereka adalah pewaris para Rasul. Orang yang membenarkan mereka dan meyakini kebenaran ilmu dan sir mereka tak lain adalah orang yang dikehendaki Allah untuk dipertemukan dengan mereka walaupun setelah beberapa waktu. Sedangkan orang yang mendustakan mereka maka hanya akan bertambah jauh dari Allah.

Abul Hasan asy-Syadzili berkata: “Tiap wali memiliki satu hijab atau lebih, sebagaimana ada 70 hijab yang menghalangi makhluk dari Allah. Sebagian memiliki tutup berupa pekerjaan, sebagian memiliki tutup berupa jabatan. Orang-orangpun berkata: “Jauh sekali jika orang ini disebut wali ketika demikian keadaannya.” Sebagian lagi memakai tutup dengan menekuni ilmu dhahir dan dalil-dalil yang dhahir. Ada pula yang memakai tutup dengan bersaing mendapatkan dunia, menampakkan keinginan untuk menjadi pemimpin dan memakai pakaian mewah. Ada juga yang memakai tutup dengan sering mengunjungi penguasa dan orang-orang kaya, dan meminta harta atau jabatan kepada mereka, lalu mereka memegangnya dengan adil dan baik hingga tidak bisa ditiru oleh penguasa atau fuqaha. Kemudian mereka tidak memakan upahnya sama sekali atau memakan sekadar untuk menahan nyawa. Orang yang tidak pahampun berkata: “Seandainya orang ini adalah wali maka mereka tidak akan sering mengunjungi para penguasa dan memilih diam di pondok atau rumahnya dengan menekuni ilmu dan ibadah

sumber :
https://plus.google.com/101843903019506440861/posts/NLSHk2hD36V

Previous
Next Post »
Thanks for your comment