MUHAMAD RIZKY JULIAN 10 JULI 2015

Sultan Muhammad al-Fatih

Muhammad Al-Fatih merupakan sultan ketujuh dalam sejarah Bani Utsmaniah. Ia adalah salah satu raja atau sultan Kerajaan Utsmani yang paling terkenal. Nama Al-Fatih merupakan gelar yang senantiasa melekat padanya karena dialah yang mengakhiri atau menaklukkan Kerajaan Romawi Timur yang telah berkuasa selama 11 abad.

Sejak kecil, Sultan Muhammad al-Fatih sudah dibekali dengan karakter pemimpin dalam dirinya. Hal ini yang membuatnya menjelma menjadi pemimpin ulung. Al-Fatih memerintah selama 30 tahun. Selain menaklukkan Binzantium, ia juga berhasil menaklukkan wilayah-wilayah di Asia, menyatukan kerajaan-kerajaan Anatolia dan wilayah-wilayah Eropa.

Muhammad al-Fatih dilahirkan pada 27 Rajab 835 H/30 Maret 1432 M di Kota Erdine, ibu kota Daulah Utsmaniyah saat itu. Ia adalah putra dari Sultan Murad II yang merupakan raja keenam Daulah Utsmaniyah.

Ayahnya, Sultan Murad II memiliki perhatian yang sangat besar terhadap pendidikan anaknya. Ia menyiapkan buah hatinya agar kelak menjadi seorang pemimpin yang baik dan tangguh.

Perhatian ayahnya terlihat dari Muhammad kecil yang bisa menyelesaikan hafalan Alquran 30 juz, mempelajari hadis-hadis, memahami ilmu fikih, belajar matematika, ilmu falak, dan strategi perang. Muhammad juga mempelajari berbagai bahasa, sehingga pada usia 21 tahun ia sangat lancar berbahasa Arab, Turki, Persia, Ibrani, Latin, dan Yunani.

Pada 5 Muharam 855 H, Muhammad Al-Fatih resmi diangkat menjadi Khalifah Utsmaniyah. Penaklukan Konstatinopel langsung menjadi program besar yang ia canangkan saat itu.

Untuk mengepung Konstantinopel, Sultan Muhammad II menyiapkan lebih dari 4 juta prajuritnya. Namun, pada saat mengepung benteng Bizantium banyak pasukan Utsmani yang gugur karena kuatnya pertahanan benteng tersebut.

Benteng Romawi tersebut memang terkenal dengan pertahanannya. Sulit bagi pasuan Muslim untuk mendobrak benteng tersebut karena Romawi telah memagari laut mereka dengan rantai yang membentang di semenanjung Tanduk Emas.

Setelah mengkaji, akhirnya Sultan Muhammad menemukan ide agar bisa melewati pagar tersebut. Dengan cerdik, Sultan Muhammad menggandeng 70 kapalnya melintasi Galata ke muara setelah meminyaki batang-batang kayu. Hal itu dilakukan dalam waktu yang sangat singkat, tidak sampai satu malam.

Saat pagi menjelang, Bizantium kaget bukan kepalang. Bagaimana tidak, mereka melihat Sultan Muhammad dan pasukannya menyeberangkan 70 kapal laut mereka lewat jalur darat hanya dalam waktu satu malam. Bagi bangsa Romawi, itu adalah suatu kemustahilan.

Peperangan dahsyat pun terjadi, benteng yang menjadi simbol kekuatan Bizantium itu akhirnya diserang oleh orang-orang yang tidak takut akan kematian. Kerajaan besar yang berumur 11 abad itu pun jatuh ke tangan kaum muslimin pada 20 Jumadil Awal 857 H. Sekitar 265.000 pasukan umat Islam gugur dalam peperangan hebat itu.

Karena penaklukannya terhadap Konstantinopel inilah, sejak saat itu ia dikenal dengan nama Sultan Muhammad al-Fatih, penakluk Konstantinopel.

Saat memasuki Konstantinopel, Sultan Muhammad al-Fatih turun dari kudanya lalu sujud sebagai tanda syukur kepada Allah. Setelah itu, ia menuju Gereja Hagia Sophia dan memerintahkan menggantinya menjadi masjid. Konstantinopel dijadikan sebagai ibu kota, pusat pemerintah Kerajaan Utsmani dan kota ini diganti namanya menjadi Islambul yang berarti negeri Islam, lalu akhirnya mengalami perubahan menjadi Istanbul.

Setelah itu rentetat penaklukkan strategis dilakukan oleh Sultan Muhammad al-Fatih; ia membawa pasukannya menkalukkan Balkan, Yunani, Rumania, Albania, Asia Kecil, dll. Bahkan ia telah mempersiapkan pasukan dan mengatur strategi untuk menaklukkan kerajaan Romawi di Italia, akan tetapi kematian telah menghalanginya untuk mewujudkan hal itu.

Selain terkenal sebagai jenderal perang dan berhasil memperluas kekuasaan Utsmani melebihi sultan-sultan lainnya, Muhammad al-Fatih juga dikenal sebagai seorang penyair. Ia memiliki diwan, kumpulan syair yang ia buat sendiri.

Sultan Muhammad juga membangun lebih dari 300 masjid, 57 sekolah, dan 59 tempat pemandian di berbagai wilayah Utsmani. Peninggalannya yang paling terkenal adalah Masjid Sultan Muhammad II dan Jami’ Abu Ayyub al-Anshari

Pada bulan Rabiul Awal tahun 886 H/1481 M, Sultan Muhammad al-Fatih pergi dari Istanbul untuk berjihad, padahal ia sedang dalam kondisi tidak sehat. Di tengah perjalanan sakit yang ia derita kian parah dan semakin berat ia rasakan. Dokter pun didatangkan untuk mengobatinya, namun dokter dan obat tidak lagi bermanfaat bagi sang Sultan, ia pun wafat saat berusia 52 tahun di tengah pasukannya pada hari Kamis, tanggal 4 Rabiul Awal 886 H/3 Mei 1481 M.

Sebelum wafat, Muhammad al-Fatih mewasiatkan kepada putra dan penerus tahtanya, Sultan Bayazid II agar senantiasa dekat dengan para ulama, berbuat adil, tidak tertipu dengan harta, dan benar-benar menjaga agama baik untuk pribadi, masyarakat, dan kerajaan

Previous
Next Post »
Thanks for your comment